Daulah Umayyah adalah negara Islam yang memiliki sejarah besar dan
pengaruh yang luas dalam penyebaran agama Islam. Daulah ini berhasil
mempersatukan wilayah dari Cina hingga Prancis bagian Selatan di bawah
satu naungan kekhalifahan Islam, Kekhalifahan Bani Umayyah. Masa ini adalah masa keemasan Islam, masa dimana generasi terbaik
Islam hidup bahkan di antara mereka menduduki kursi pemerintahan. Masa
ini adalah masa dimana para sahabat Nabi masih hadir membimbing umat.
Masa ini adalah masa berkumpulnya tiga generasi terbaik; sahabat,
tabi’in, dan tabi’ tabi’in. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi
berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dari negeri-negeri taklukkan, Daulah Umayyah lahirlah putra-putra
terbaik Islam semisal Imam Bukhari, Muslim, an-Nasa-i, Tirmidzi, Ibnu
Khaldun, ath-Thabari, adz-Dzahabi, dan tokoh-tokoh lainnya. Semestinya hal ini cukup membuat orang-orang setelah mereka memuji
mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka atas jasa yang telah mereka
usahakan untuk Islam dan kaum muslimin.
Namun, orang-orang lebih pandai melihat cela kemudian jasa-jasa besar
itu pun seolah-olah tiada artinya. Beberapa kejadian buruk di masa
pemerintahan inilah yang selalu diangkat dan diulang-ulang, terutama
oleh kalangan musuh-musuh Islam. Sehingga hal itu cukup berpengaruh di
sebagian umat Islam. Munculnya Daulah Umayyah Kekhalifahan Bani Umayyah didirikan pada tahun 41 H dengan penyerahan
kekuasaan oleh cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Hasan
bin Ali, kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Al-Hasan radhiallahu ‘anhu
melakukan hal itu untuk menjaga persatuan dan terjaganya darah kaum
muslimin setelah sebelumnya terjadi perpecahan. Munculnya daulah ini membuat posisi orang-orang penyebar fitnah
perpecahan terpojok dan membuat cita-cita mereka pupus. Karena mereka
hanya menginginkan kejelekan untuk umat Islam. Mereka menginginkan
peperangan dan perpecahan umat ini terus berlangsung. Penyerahan kekuasaan yang dilakukan oleh cucu Rasulullah menunjukkan
bahwa berdirinya kekhalifahan ini tidak dengan cara-cara yang tidak
disyariatkan seperti memberontak dan lain sebagainya. Periodesasi Daulah Umayyah dibangun dan diperkuat pondasinya pada masa
pemerintahan dua khalifah, yakni pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi
Sufyan dan anaknya Yazid bin Muawiyah. Proses tersebut berlangsung dari
tahun 41 H sampai 64 H. Periode berikutnya adalah periode fitnah. Berlangsung antara tahun 64
H sampai 86 H, yakni pada masa Khalifah Muawiyah bin Yazid, Marwan bin
Hakam, dan Abdul Malik bin Marwan. Pada masa ini terjadi pemberontakan
terhadap penguasa dan peperangan sesama umat Islam. Perideo berikutnya adalah periode kekuatan, sama halnya dengan
periode Muawiyah dan Yazid. Berlangsung antara tahun 86 H sampai 125 H.
Yaitu pada masa Khalifah al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan, Sulaiman
bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik,
dan Hisyam bin Abdul Malik. Periode kemunduran hingga jatuhnya kekhalifahan Bani Umayyah terjadi
antara tahun 125 H hingga 132 H. Pada masa ini banyak terdapat khalifah
dalam satu negara. Dengan demikian periode keemasan Daulah Bani Umayyah terbagi menjadi
dua fase, antara tahun 41–64 H dan 86–125 H. Begitu pula masa
kemundurannya terbagi menjadi dua fase, antara tahun 64–86 H (tidak
sampai menyebabkan kekhalifahan runtuh) dan 125–132 H ditandai dengan
runtuhnya kekhalifahan. Khalifah Pertama: Muawiayah bin Abi Sufyan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu memeluk Islam pada tahun 7
H. Ia adalah saudara ipar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena istri Nabi, Ummu Habibah binti Abi Sufyan, merupakan saudari dari
Muawiyah. Ia juga penulis wahyu Alquran dan periwayat hadits-hadits
Nabi. Dari sini kita bisa ketahui, orang yang mencela Muawiyah adalah
mereka yang menghendaki batalnya apa yang diriwayatkan Muawiyah yakni
Alquran dan hadits. Muawiyah adalah seorang yang ahli dalam kepemimpinan. Tidak heran
sedari zaman Rasulullah hingga zaman Utsman bin Affan, ia diberikan
amanat yang besar. Rasulullah mengamanitinya sebagai penulis wahyu, Umar
dan Utsman menjadikannya sebagai gubernur Syam. Ibnu Taimiyah
mengatakan, “Tidak ada penguasa kaum muslimin yang lebih baik dibanding
Muawiyah, jika dibandingkan dengan masa setelahnya. Adapun jika
dibandingkan dengan masa Abu Bakar dan Umar, barulah terlihat ada
penguasa yang lebih utama”. (Minhajussunnah, 6: 232). Demikian juga
pendapat ahli sejarah semisal al-Ya’qubi dan al-Mas’udi. Kebaikan di sini termasuk dalam kepiawaian dalam kepemimpinan.
Muawiyah lebih baik dari Umar bin Abdul Aziz, Shalahuddin al-Ayyubi,
Muhammad al-Fatih, dll. Abdullah bin Mubarok – gurunya Imam Bukhari – (w. 181 H) pernah mengatakan,
تراب في أنف معاوية أفضل من عمر بن عبد العزيز
“Debu yang masuk ke hidungnya Muawiyah, lebih baik dari pada Umar bin Abdul Aziz.” Khalifah Kedua: Yazid bin Muawiyah Setelah Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu wafat, putranya
Yazid menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Muawiyah memilih Yazid
karena menurutnya pengangkatan Yazid akan meredam gejolak dan fitnah.
Ia menyadari di saat itu ada orang-orang yang utama semisal Husein bin
Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, dll. Namun
memilih mereka dikhawatirkan akan terjadi pemberontakan dari kalangan
Bani Umayyah yang memiliki kekuatan di saat itu. Singkat cerita, pengangkatan Yazid memang dipandang kontroversial
namun kenyataannya tidaklah seperti penilaian orang-orang pada saat ini.
Mari kita serahkan penilaian terhadap Yazid kepada seseorang yang
shaleh yang hidup sezaman dengan Yazid, bukan kepada orang-orang yang
hidup setelah Yazid dan diperparah seandainya mereka bukan orang yang
shaleh. Penilaian itu kita serahkan kepada salah seorang anak Ali bin
Abi Thalib, saudara beda ibu dari Hasan dan Husein, dan ulama di masa
tabi’in, yakni Muhammad al-Hanafiyah. Ibnu Muthi` berkata kepada Muhammad al-Hanafiyah, “Sesungguhnya Yazid
itu meminum khamr dan meninggalkan shalat”. Ia mengajak Muhammad
al-Hanafiyah untuk memberontak kepada Yazid. Lalu Muhammad al-Hanafiyah
menjawab, “Aku tidak melihat pada dirinya seperti apa yang kalian
katakan. Aku datang di majlisnya dan tinggal bersamanya, kulihat ia
adalah seorang yang tekun dalam shalat, semangat mengerjakan kebaikan,
bertanya tentang fikih, dan memegang erat sunnah”. Ibnu Muthi’ dan orang-orang yang bersamanya menjawab, “Hal itu ia
buat-buat dihadapanmu”. Muhammad menjawab, “Apa yang ia takutkan dan
harapkan dariku? Apakah kalian bisa memperlihatkan kepadaku apa yang
kalian katakana terhadapnya?” Tantang Muhammad al-Hanafiyah. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kabar yang kami dengar itu bagi kami
adalah kenyataan, walaupun kami belum pernah melihatnya”. Kata Muhammad,
“Demi Allah, penilaian seperti itu hanyalah hak bagi orang-orang yang
benar-benar melihatnya.” (Huqbah min at-Tarikh, Hal: 138-139). Syaikh Utsman al-Khomis mengatakan, “Kefasikan yang dinisbatkan
kepada pribadi Yazid seperti meminum khamr, mempermainkan hukum, kejal,
dll. Tidaklah bersumber dari berita yang shahih” (Huqbah min at-Tarikh,
Hal: 139). Berita-berita demikian dibuat-buat oleh orang-orang yang
membenci Yazid lalu kemudian menjadi santapan para orientalis untuk
menyerang bobroknya kekhalifahan Islam, meskipun masanya tidak jauh dari
zaman Nabi. Sangat disayangkan hal ini ditelah mentah-mentah oleh
generasi Islam yang belakangan. Setelah Yazid diangkat seluruh sahabat yang hidup saat itu termasuk Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar membaiat Yazid membaiat Yazid kecuali
Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair. Dan pada masa pemerintahannya
Yazid sangat memuliakan ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Assalamu Alaikum wr wb. Pada dasarnya Daulah Bani Umayyah
merupakan lanjutan dari Daulah Khulafaur Rasyidin. Muawiyah adalah
pendiri daulah ini. Daulah ini berdiri ketika terjadi krisis politik
dalam tubuh umat Islam. Perang siffin merupakan bagian tengah dari
episode krisis umat Islam pada masa itu. Sebab, sebelumnya terjadi pula
perang yaitu perang antara pemerintah Ali melawan pendukung Aisyah,
Zubair, dan Talhah. Perang yang dikenal sebagai perang Jamal (Perang
Unta) tersebut terjadi karena peristiwa sebelumnya, yaitu terbunuhnya
Khalifah Ustman. Tetapi sebenarnya pangkal dari krisis tersebut sudah
ada pada masa Khalifah Ustman menjabat. Umat Islam resah ketika Khalifah
dipandang telah membiarkan praktek-praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme) dalam pemerintahannya. Keresahan umat itu terus berkembang
hingga terjadinya aksi demonstrasi di depan kediaman Khalifah Ustman di
Madinah. Sayang, aksi yang awalnya hanya gerakan moral anti KKN itu
berakhir beringas dan tak terkendali sampai akhirnya menyebabkan
Khalifah Ustman terbunuh dan istri beliau terluka.
Karena kehilangan
Khalifah, umat Islam mengangkat Khalifah baru. Pada waktu itu Ali bin
Abi Thalib dianggap sosok yang paling tepat menjadi Khalifah. Masyarakat
Madinah dan para demonstran ramai-ramai membaiat Ali menjadi Khalifah.
Dengan naiknya Ali tersebut, keadaan menjadi lebih tenang. Masyarakat
Madinah tenang dan para demonstran yang kebanyakan dari daerah luar
Madinah, seperti Mesir, Kuffah, dan Basra, juga tenang dan kembali ke
daerah masing-masing. Namun, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah
serta Aisyah (istri Rasulullah SAW) menolak pembaiatan Ali menjadi
Khalifah. Mereka menuntut agar para pembunuh Ustman ditangkap dan
diadili dahulu sebelum pemilihan Khalifah. Akibat dari ketidaksetujuan
itu pecahlah Perang Unta. Di sisi lain, Muawiyah yang bertempat tinggal
di Damaskus juga menyatakan hal yang sama dengan kelompok Zubair,
Talhah, Aisyah. Akibat dari penolakan itu, pecahlah perang Siffin.
Asal Usul Bani Umayyah
Nama Umayyah
merujuk pada seorang Quraisy di masa Jahiliyah. Dia adalah Umayyah bin
Abdus Syam bin Abdi Manaf. Masih terhitung saudara dari Bani Hasyim
(keluarga besar Rasulullah SAW), karena Hasyim (ayah Abdul Muthalib)
juga salah satu Putra Abdi Manaf. Jadi, Abdi Manaf adalah kakek moyang
kedua Bani tersebut. Tetapi, sekalipun satu kakek moyangnya, sejak zaman
Jahiliyah Bani Umayyah juga tidak jarang mengganggu keberhasilan Bani Hasyim. Abdul Muthalib, pemimpin Ka’bah saat itu, diganggu oleh Abdus Syam dan Umayyah. Ketika menemukan kembali mata air zamzam, Umayyah
dan bapaknya meminta bagian agar dapat mengurusi mata air itu. Tetapi
karena penduduk Mekkah tidak berkenan dengan tindakan mereka itu, maka
keluarga Abdus Syam tersebut meninggalkan Mekkah menuju Damaskus karena
merasa malu.
Pada masa Muhammad diangkat sebagai Rasul Allah, Bani Umayyah
merupakan keluarga kaya, terdidik dan berpengaruh. Salah satu dari
mereka adalah pemimpin Kaum Quraisy Mekkah. Dia adalah Abu Sufyan bin
Harb bin Umayyah. Kecintaannya kepada harta dan kekuasaan membuat dia
dan keluarganya tidak mau mengakui kebenaran Islam sebagai ajaran yang
mulia. Oleh karena itu, Abu Sufyan tidak mau tunduk terhadap ajakan
Rasulullah SAW, bahkan terus memusuhi. Aktivitas dakwah Rasulullah SAW yang dianggapnya akan mengubah keadaan sosial, ekonomi, dan politik Mekkah, tentu merugikan para orang kaya, termasuk Bani Umayyah.
Untuk itu, berbagai cara dilakukan guna menggagalkan gerakan reformasi
yang dibangun Rasulullah SAW tersebut. Sampai-sampai, cara-cara
kekerasan (perang) pun mereka lakukan. Tercatat beberapa perang besar
(Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq) pasca hijrah, melibatkan
kepemimpinan Abu Sufyan.
Abu Sufyan dan
keluarga, akhirnya masuk Islam dengan terpaksa pada saat berpuluh-puluh
ribu kaum Muslimin mengepung Mekkah dari segala penjuru. Walapun banyak
sahabat tidak suka terhadap masuk Islamnya keluarga Abu Sufyan,
Rasulullah SAW tetap menghormati perubahan sikapnya.
Kesalahan-kesalahannya diampuni, bahkan Muawiyah putra Abu Sufyan
diangkat sebagai sekretaris beliau dan saudara perempuannya, Ummu
Habibah diperistri oleh Beliau. Setelah beberapa tahun bergabung sebagai
kaum Muslimin, keluarga terdidik dan berpengaruh ini ikut membesarkan
Islam. Di masa Abu Bakar Sidiq, keluarga Abu Sufyan dan Bani Umayyah
merasa rendah diri karena kelas mereka berada di bawah kaum Muhajirin
dan Ansar. Mereka tahu diri bahwa perjuangan mereka belum apa-apa
dibanding dengan kedua kaum di atas. Apalagi di masa dahulu, mereka
memusuhi perjuangan Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Oleh karena itu,
mereka maklum ketika Khalifah Abu Bakar menyatakan di depan umum bahwa
keluarga besar Bani Umayyah harus ikut berjuang membela Islam termasuk
di medan perang, bila ingin setingkat dengan kaum Muhajirin dan Ansar.
Beberapa peperangan yang terjadi di masa Abu Bakar ini anggota Bani
Umayyah ikut serta dibarisan kaum Muslimin. Bahkan, Yazid bin Abu Sufyan
menjadi salah satu panglima untuk memimpin pasukan ke Syiria melawan
Bizantium.
Pada masa Umar,
ketika wilayah Islam semakin meluas dan membutuhkan banyak tenaga
administratif, sang Khalifah memanfaatkan tenaga-tenaga Bani Umayyah
yang umumnya terdidik untuk membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan,
Yazid dan Muawiyah dipercaya untuk mengelolah wilayah Syiria.
Kepercayaan Khalifah Umar ini tidak disia-siakan oleh Bani Umayyah. Mereka bekerja dengan tekun dan dikenal sukses dalam mengerjakan tugas-tugas administratif. Periode Umar inilah awal mula Bani Umayyah
menduduki posisi-posisi penting. Namun karena kewibawaan sang Khalifah
yang bersih dan berwibawa, mereka tidak berani bertindak macam-macam,
seperti korupsi dan sejenisnya.
Pada masa Ustman, kebijakan mempekerjakan tenaga-tenaga Bani Umayyah
seperti masa Umar, tetap dilanjutkan. Bahkan Ustman mempercayai mereka
untuk jabatan-jabatan strategis. Enam tahun pertama, Ustman sukses
membangun Negara. Namun, pada enam tahun berikutnya, karena usia Ustman
yang semakin uzur, maka posisi Bani Umayyah semakin kuat. Melalui sekretaris Negara Marwan bin Hakam yang juga salah satu anggota Bani Umayyah,
mereka menempatkan kroni-kroninya pada posisi strategis.
Praktek-praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) dijalankan dengan
penuh kesungguhan. Hal inilah yang menjadi awal bencana hingga
terbunuhnya Khalifah Ustman.
Pada era Ali, keluarga Umayyah
yang menjabat posisi-posisi penting pada pemerintahan Ustman, semuanya
dicopot. Kebijakan Ali yang keras inilah yang mendorong mereka menentang
pengangkatan Ali sampai membuat pecahnya Perang Siffin. Namun,
keberuntungan memang ada dipihak mereka pada saat Perang Siffin
mengangkat Muawiyah menjadi Khalifah tandingan. Bahkan lebih beruntung
lagi ketika Hasan bin Ali yang menggantikan kepemimpinan ayahnya
mengakui Muawiyah sebagai Khalifah yang sah di seluruh wilayah kekuasaan
Islam. Sejak itulah mereka mulai membangun pemerintahan Islam warisan
Rasulullah SAW dan para sahabat tersebut menjadi pemerintahan milik
keluarga besar Bani Umayyah.
Corak Khas Pemerintahan Bani Umayyah
Pada masa Khulafaur
Rasyidin, Khalifah adalah sosok pemimpin yang alim dalam ilmu agama,
sederhana dalam hidup, dan tanggung jawab kepada rakyatnya. Dia menjadi
imam di Masjid, sekaligus komandan di medan perang. Dia hidup sederhana
dan jauh dari sikap mewah. Bahkan, sebagai kepala Negara tidak ada
pengawal yang menjaga di sekitarnya. Karena baginya, hidup mati adalah
urusan Allah. Adapun untuk mengetahui denyut nadi keadaaan rakyatnya,
hampir setiap malam seorang Khalifah mengunjungi kehidupan rakyatnya.
Keinginan dan kebutuhan rakyat harus disaksikan dan dirasakan sendiri
dengan cara seperti itu. Khalifah sadar bahwa tanggung jawab sebagai
pemimpin umat sangatlah berat.
Pada masa kekuasaan Bani Umayyah,
sikap hidup seperti itu tidak akan ditemukan. Sejak Muawiyah memegang
kekuasaan, gaya hidup seorang Khalifah sudah berubah drastis. Muawiyah
hidup di dalam benteng dengan pengawalan ketat dan bermewah-mewah
sebagai raja. Tradisi “Harem” dan perbudakan ditumbuhkan kembali.
Pesta-pesta diadakan di istana, lengkap dengan hiburan-hiburan yang jauh
dari nilai-nilai Islam. Hal seperti ini diwariskan kepada
Khalifah-Khalifah sesudahnya kecuali pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz
(Umar II). Hal lain yang berubah pada masa Bani Umayyah adalah
fungsi dan kedudukan Baitul Mal. Ketika era Khulafaur Rasyidin. Baitul
Mal adalah harta Negara yang harus dipergunakan untuk kesejahteraan
rakyat. Namun pada masa Bani Umayyah, fungsi dan kedudukan Baitul
Mal telah bergeser, sebab Khalifah memiliki wewenang yang besar untuk
menggunakan harta Baitul Mal sesuai keinginannya. Kewenangannya,
khalifah menggunakan harta tersebut untuk kepentingan pribadi maupun
keluarganya. Kecuali Khalifah Umar II, semua Khalifah memperlakukan
Baitul Mal seperti itu. Khalifah Umar II berusaha mengembalikan fungsi
dan kedudukan Baitul Mal sebagaimana yang dicontohkan oleh para
Khulafaur Rasyidin.
Bani Umayyah
juga meninggalkan tradisi musyawarah dan keterbukaan yang dirintis oleh
pendahulunya. Pada masa Khulafaur Rasyidin, Khalifah didampingi oleh
sebuah Dewan penasehat yang ikut berperan dalam setiap
kebijakan-kebijakan penting Negara. Lebih dari itu, seorang rakyat biasa
pun dapat menyampaikan pendapatnya tentang kebijakan Khalifah secara
terbuka. Tradisi positif itu tidak dilanjutkan oleh Muawiyah dan para
penerusnya. Walapun lagi-lagi, Umar II berusaha menghidupkan kembali
tradisi tersebut, namun penguasa setelahnya segera mengembalikan pada
cara-cara kerajaan yang menempatkan sang raja di atas segala-galanya.
Satu hal yang memprihatinkan pada masa pemerintahan Bani Umayyah adalah
diabaikannya nilai-nilai ajaran Islam oleh para pejabat Negara dan
keluarganya. Mereka lebih suka hidup mewah, mengembangkan budaya KKN
(Korupsi, Kolusi, Nepotisme), serta tidak segan-segan menggunakan
kekerasan untuk tujuan politiknya. Dan tampaknya hal seperti itu
direstui oleh sang Khalifah. Bahkan, para Khalifah Bani Umayyah justru menikmati kondisi seperti itu.
Namun demikian, ada pula kemajuan positif yang terjadi pada masa Bani Umayyah.
Di antaranya adalah bertambah luasnya daerah kekuasaan pemerintahan
Islam yang membentang dari Afganistan sampai Andalusia. Suksesnya
politik ekspansi ini menempatkan Islam menjadi kekuatan Internasional
yang paling disegani di Timur dan di Barat. Imbas positifnya, dakwah
Islam cepat tersebar ke berbagai penjuru dunia. Islam dapat tersebar
dengan cepat dan meluas. Bahasa Arab menjadi bahasa dunia, Masjid-masjid
dibangun di setiap kota besar serta kegiatan pendalaman agama dan
pengembangan ilmu pengetahuan Islam semarak di mana-mana. Saat itu,
Daulah Bani Umayyah adalah sebuah Negara adikuasa di dunia. Sebagai Negara besar, Daulah Bani Umayyah
memiliki militer yang sangat kuat. Tidak seperti para pejabat istana,
kaum militer ini umumnya terdiri atas orang-orang yang sederhana dan
taat beribadah. Mereka berjuang bukan demi Khalifah, melainkan demi
tersiarnya Islam diseluruh penjuru bumi. Bagi mereka, mati di medan
perang adalah persembahan terbaik kepada Tuhan. Gugur di medan laga
adalah syahid di jalan Allah. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemenangan
pasukan Islam di berbagai wilayah disebabkan oleh semangat seperti ini.
Karena itu, Bani Umayyah sangat terkenal dalam suksesnya politik ekspansi. Salah satu kesuksesannya adalah mampu menembus hingga wilayah Spanyol.
Kemajuan Islam Pada Masa Bani Umayyah
Kemajuan Islam di masa Daulah Umayyah
meliputi berbagai bidang, yaitu politik, ekonomi, sosial, ilmu
pengetahuan, seni dan budaya. Di antaranya yang paling spektakuler
adalah bertambahnya pemeluk Agama Islam secara cepat dan meluas. Semakin
banyaknya jumlah kaum Muslimin ini terkait erat dengan makin luasnya
wilayah pemerintahan Islam pada waktu itu. Pemerintah memang tidak
memaksakan penduduk setempat untuk masuk Islam, melainkan mereka sendiri
yang dengan rela hati tertarik masuk Islam. Akibat dari makin banyaknya
orang masuk agama Islam tersebut maka pemerintah dengan gencar membuat
program pembangunan Masjid di berbagai tempat sebagai pusat kegiatan
kaum Muslimin. Pada masa Khalifah Abdul Malik, masjid-masjid didirikan
di berbagai kota besar. Selain itu, beliau juga memperbaiki kembali tiga
Masjid utama umat Islam, yaitu Masjidil Haram (Mekkah), Masjidil Aqsa
(Yerusalem) dan Masjid Nabawi (Madinah). Al-Walid, Khalifah setelah
Abdul Malik yang ahli Arsitektur, mengembangkan Masjid sebagai sebuah
bangunan yang indah. Menara Masjid yang sekarang ada dimana-mana itu
pada mulanya merupakan gagasan Al-Walid ini. Perhatian pada Masjid ini
juga dilakukan oleh Khalifah-Khalifah Bani Umayyah setelahnya.
Perkembangan lain
yang menggembirakan adalah makin meluasnya pendidikan Agama Islam.
Sebagai ajaran baru, Islam sungguh menarik minat penduduk untuk
mempelajarinya. Masjid dan tempat tinggal ulama merupakan tempat yang
utama untuk belajar agama. Bagi orang dewasa, biasanya mereka belajar
tafsir Al-Quran, hadist, dan sejarah Nabi Muhammad SAW. Selain itu,
filsafat juga memiliki penggemar yang tidak sedikit. Adapun untuk
anak-anak, diajarkan baca tulis Arab dan hafalan Al-Quran dan Hadist.
Pada masa itu masyarakat sangat antusias dalam usahanya untuk memahami
Islam secara sempurna. Jika pelajaran Al-Quran, hadist, dan sejarah
dipelajari karena memang ilmu yang pokok untuk memahami ajaran Islam,
maka filsafat dipelajari sebagai alat berdebat dengan orang-orang Yahudi
dan Nasrani yang waktu itu suka berdebat menggunakan ilmu filsafat.
Sedangkan ilmu-ilmu lain seperti ilmu alam, matematika, dan ilmu social
belum berkembang. Ilmu-ilmu yang terakhir ini muncul dan berkembang
denga baik pada masa dinasti Bani Abbasiyah maupun Bani Umayyah Spanyol.
Bidang seni dan
budaya pada masa itu juga mengalami perkembangan yang maju. Karena
ajaran Islam lahir untuk menghapuskan perbuatan syirik yang menyembah
berhala, maka seni patung dan seni lukis binatang maupun lukis manusia
tidak berkembang. Akan tetapi, seni kaligrafi, seni sastra, seni suara,
seni bangunan, dan seni ukir berkembang cukup baik. Di masa ini sudah
banyak bangunan bergaya kombinasi, seperti kombinasi Romawi-Arab maupun
Persia-Arab. Apalagi, bangsa Romawi dan Persia sudah memiliki tradisi
berkesenian yang tinggi. Khususnya dalam bidang seni lukis, seni patung
maupun seni arsitektur bangunan. Contoh dari perkembangan seni bangunan
ini, antara lain adalah berdirinya Masjid Damaskus yang dindingnya penuh
dengan ukiran halus dan dihiasi dengan aneka warna-warni batu-batuan
yang sangat indah. Perlu diketahui bahwa untuk membangun Masjid ini,
Khalifah Walid mendatangkan 12.000 orang ahli bangunan dari Romawi.
Tetapi di antara kemajuan-kemajuan yang terjadi pada masa Daulah Bani Umayyah
tersebut, prestasi yang paling penting dan berpengaruh hingga zaman
sekarang adalah luasnya wilayah Islam. Dengan wilayah yang sedemikian
luas itu ajaran Islam menjadi cepat dikenal oleh bangsa-bangsa lain,
tidak saja bangsa Arab.
Masa Kemunduran Bani Umayyah
Daulah Bani Umayyah
yang megah akhirnya runtuh juga. Namun keruntuhannya tidaklah datang
secara tiba-tiba. Melainkan melalui sebuah proses yang panjang. Setelah
Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Khalifah-Khalifah sesudahnya bukanlah
orang-orang yang cakap dalam memimpin pemerintahan. Namun, lebih dari
itu sistem sosial dan politik yang berkembang oleh pemerintahan Bani Umayyah memang mengandung banyak kelemahan. Di antara kelemahan-kelemahan sistem itu sebagai berikut :
Ketidakjelasan Sistem
Suksesi, sistem pergantian Khalifah melalui garis keturunan adalah
sesuatu yang baru bagi tradisi Arab. Tradisi asli Arab adalah masyarakat
terbentuk atas kabilah-kabilah. Dan kepemimpinan masyarakat yang
terdiri dari kabilah-kabilah tersebut dilakukan dengan sistem perwakilan
tiap pimpinan kabilah. Adapun tradisi kepemimpinan yang turun-temurun
merupakan tradisi kerajaan Romawi dan kerajaan Persia. Tampaknya,
Muawiyah meniru kedua kerajaan besar tersebut. Kelemahan dari tradisi
kepemimpinan turun-temurun adalah adanya ketidakjelasan sistem
pergantian. Ketidakjelasan tersebut menyebabkan terjadinya persaingan
yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga Istana. Akibatnya,
ketidakkompakkan anggota keluarga Istana memperlemah kekuatan
kekhalifahan.
Sistem Sosial yang Diskriminatif, Bani Umayyah menerapkan sistem diskriminasi sosial. Padahal ajaran Islam menganggap bahwa semua manusia itu sederajat. Namun, Bani Umayyah
memperlakukan orang-orang Islam non-Arab (kaum mawali) sebagai warna
kelas dua. Hal ini jelas menimbulkan kecemburuan. Apalagi para pemeluk
Islam non-Arab makin hari makin besar jumlahnya. Tampaknya, pemerintah Bani Umayyah tidak mempertimbangkan persoalan ini sejak awal. Selain itu, Bani Umayyah juga bersikap buruk kepada Bani Hasyim, lebih-lebih keturunan Ali. Kecuali Khalifah Umar II, semua Khalifah Bani Umayyah melakukan kezaliman tersebut.
Sikap Mewah Kalangan Istana, lemahnya pemerintahan daulah Bani Umayyah
juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana. Kemewahan
itu membuat anak-anak Khalifah tidak sanggup memikul beban berat
kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Selain itu, golongan agama
banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan
agama sangat kurang.
Selain persoalan-persoalan sistem tersebut. Daulah Bani Umayyah
juga mengalami persoalan dengan adanya kaum oposisi maupun kaum
pemberontak. Golongan Syiah (pengikut Ali) dan kaum Khawarij merupakan
gerakan oposisi utama sejak Daulah Bani Umayyah berdiri. Mereka
melakukan oposisi secara terbuka maupun bersembunyi. Penumpasan terhadap
gerakan kedua oposisi itu banyak menyedot kekuatan pemerintah. Adapun
gerakan oposisi yang paling kuat adalah oposisi yang dilakukan Bani
Abbasiyah. Gerakan ini merupakan gerakan gabungan antara keluarga
(Orang-orang Muslim Non-Arab) dan orang-orang Khurasan pimpinan Abu
Muslim. Gerakan ini menggelembung menjadi besar, dan pada tahun 750 M
mampu menggulingkan Daulah Bani Umayyah. Sekian dan Semoga dapat menjadi pembelajaran buat kita. Wassalamu Alaikum wr wb.
Sumber:
– al-Khomis, Utsman bin Muhammad. Huqbah min at-Tarikh. 1999. Iskandariyah: Dar al-Iman.
– ash-Shalabi, Ali bin Muhammad. ad-Daulah al-Umayyah. 2008. Beirut: Dar al-Ma’rifah. Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com