Apa itu Golongan Sunni,Pengertian Sunni

Diposkan oleh cuman gudang ilmu on Kamis, 25 April 2013

Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah (Bahasa Arab: أهل السنة والجماعة) atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah (bahasa Arab: أهل السنة) atau Sunni adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.
 
Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullah berada di atasnya dan juga para sahabatnya. Oleh karena itu Ahlus Sunnah yang sebenarnya adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat.

Fitnah di tubuh Agama Islam


Kesalah pahaman dalam kepemimpinan pada saat wafatnya Rasulullah Muhammad

Ketika Rasulullah Muhammad SAW wafat, maka terjadilah kesalahpahaman antara golongan Muhajirin dan Anshar siapa yang selanjutnya menjadi pemimpin kaum muslimin. Para sahabat melihat hal ini akan mengakibatkan perselisihan antar kaum muslimin Muhajirin dan Anshar. Setelah masing-masing mengajukan delegasi untuk menentukkan siapa Khalifah pengganti Rasulullah. Akhirnya disepakati oleh kaum muslimin untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah.

Fitnah pada masa khalifah ke-3

Pada masa kekhalifahan ke-3, Utsman bin Affan, terjadi fitnah yang cukup serius di tubuh Islam pada saat itu, yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman. Pembunuhnya ialah suatu rombongan delegasi yang didirikan oleh Abdullah bin Saba' dari Mesir yang hendak memberontak kepada Khalifah dan hendak membunuhnya. Abdullah bin Saba' berhasil membangun pemahaman yang sesat untuk mengadu domba umat Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Kemudian masyarakat banyak saat itu, terutama disponsori oleh para bekas pelaku pembunuhan terhadap Utsman, berhasil membunuh beliau dengan sadis ketika beliau sedang membaca Qur'an.

Fitnah dimasa khalifah ke-4

Segera setelah bai'at Khalifah Ali mengalami kesulitan bertubi-tubi. Orang-orang yang terpengaruh Abdullah bin Saba' terus menerus mengadu domba para sahabat. Usaha mereka berhasil. Para sahabat salah paham mengenai kasus hukum pembunuhan Utsman. Yang pertama berasal dari janda Rasulullah SAW, Aisyah, yang bersama dengan Thalhah dan yang kedua ialah bersama dengan Zubair. Mereka berhasil diadu domba hingga terjadilah Perang Jamal atau Perang Unta. Dan kemudian oleh Muawiyah yang diangkat oleh Utsman sebagai Gubernur di Syam, mengakibatkan terjadinya Perang Shiffin. Melihat banyaknya korban dari kaum muslimin, maka pihak yang berselisih mengadakan ishlah atau perdamaian. Para pemberontak tidak senang dengan adanya perdamaian di antara kaum muslimin. Kemudian terjadi usaha pembangkangan oleh mereka yang pada awalnya berpura-pura / munafik. Merekalah Golongan Khawarij


Tahun Jama'ah


Kaum Khawarij ingin merebut kekhalifahan. Akan tetapi, terhalang oleh Ali dan Muawiyah, sehingga mereka merencanakan untuk membunuh keduanya. Ibnu Muljam dari Khawarij berhasil membunuh Khalifah Ali pada saat khalifah mengimami salat subuh di Kufah, tapi tidak terhadap Muawiyah karena dijaga ketat. Bahkan Muawiyah berhasil mengkonsolidasikan diri dan umat Islam, berkat kecakapan politik dan ketegaran kepemimpinannya. Karena belajar oleh berbagai pertumpahan darah, kaum muslim secara pragmatis dan realistis mendukung kekuasaan de facto Muawiyah. Maka tahun itu, tahun 41 Hijriyah, secara khusus disebut tahun persatuan ('am al-jama'ah).

Sunnah Madinah


Kaum muslimin mendalami agama berdasarkan Al-Qur'an, dan memperhatikan serta ingin mempertahankan sunnah Nabi di Madinah. Akhirnya ilmu hadits yang berkembang selama beberapa abad, sampai tuntasnya masalah pembukuan hadis sebagai wujud nyata Sunnah pada sekitar akhir abad ke-3 hijriyah. Saat itu, lengkap sudah kodifikasi hadis dan menghasilkan al-Kutub al-Sittah (Buku Yang Enam) yakni oleh al-Bukhari (w. 256 H), Muslim (w. 261 H), Ibnu Majah (w. 273 H), Abu Dawud (w. 275), al-Turmudzi (w. 279 H), dan al-Nasa'i (w. 303 H).

Perkembangannya kemudian


Ahlus-Sunnah pada masa kekuasaan Bani Umayyah masih dalam keadaan mencari bentuk, hal ini dapat dilihat dengan perkembangan empat mazhab yang ada di tubuh Sunni. Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi, hidup pada masa perkembangan awal kekuasaan Bani Abbasiyah.



Mahzab /Aliran Fikih


Terdapat empat mazhab yang paling banyak diikuti oleh Muslim Sunni. Di dalam keyakinan sunni empat mazhab yang mereka miliki valid untuk diikuti. Perbedaan yang ada pada setiap mazhab tidak bersifat fundamental. Perbedaan mazhab bukan pada hal Aqidah (pokok keimanan) tapi lebih pada tata cara ibadah. Para Imam mengatakan bahwa mereka hanya ber-ijtihad dalam hal yang memang tidak ada keterangan tegas dan jelas dalam Alquran atau untuk menentukan kapan suatu hadis bisa diamalkan dan bagaimana hubungannya dengan hadis-hadis lain dalam tema yang sama. Mengikuti hasil ijtihad tanpa mengetahui dasarnya adalah terlarang dalam hal akidah, tetapi dalam tata cara ibadah masih dibolehkan, karena rujukan kita adalah Rasulullah saw. dan beliau memang tidak pernah memerintahkan untuk beribadah dengan terlebih dahulu mencari dalil-dalilnya secara langsung, karena jika hal itu wajib bagi setiap muslim maka tidak cukup waktu sekaligus berarti agama itu tidak lagi bersifat mudah.

Hanafi

Didirikan oleh Imam Abu Hanifah, Mazhab Hanafi adalah yang paling dominan di dunia Islam (sekitar 32%), penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan Turki, Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa), Mesir bagian Utara, separuh Irak, Syria, Libanon dan Palestina (campuran Syafi'i dan Hanafi), Kaukasia (Chechnya, Dagestan).

Maliki

Didirikan oleh Imam Malik, diikuti oleh sekitar 20% muslim di seluruh dunia. Mazhab ini dominan di negara-negara Afrika Barat dan Utara. Mazhab ini memiliki keunikan dengan menyodorkan tatacara hidup penduduk madinah sebagai sumber hukum karena Nabi Muhammad hijrah, hidup dan meninggal di sana dan kadang-kadang kedudukannya dianggap lebih tinggi dari hadits.

Syafi'i

Dinisbatkan kepada Imam Syafi'i memiliki penganut sekitar 28% muslim di dunia. Pengikutnya tersebar di Turki, Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Sri Lanka dan menjadi mazhab resmi negara Malaysia dan Brunei.

Hambali

Dimulai oleh para murid Imam Ahmad bin Hambal. Mazhab ini diikuti oleh sekitar 5% muslim di dunia dan dominan di daerah semenanjung Arab. Mazhab ini merupakan mazhab yang saat ini dianut di Arab Saudi. 

Orang non-Islam tidak menyadari bahwa kebanyakan orang Islam percaya dan mengikut pada hal-hal yang tidak ditemukan dalam Qur’an, tapi ada dalam kumpulan kebudayaan yang disbeutkan yaitu Hadist. Menurut sebuah catatan kaki dalam suatu terjemahan hadist, “Peraturan ini digambarkan sebagai perihal Sunah Nabi dan hadist itu telah sah yang dipaksakan satu pihak dengan pihak lain dengan Qur’an.” (Sahih Muslim vol.4 hal.1256 catatan kaki). Sunnah berarti secara lugas “tradisi”, dan Islam Sunni merupakan 80 sampai 85 % dari seluruh umat Islam. Hadist merupakan dasar tertinggi dalam Islam Sunni setelah Qur’an.

Untuk memahami seluruh Islam, penting untuk melihat perbedaan antara Islam Sunni dan aliran yang lain. Bagian ini dapat menjadi hal yang serius. Contohnya, tak hanya umat Islam yang membakar gereja di Mesir dan Indonesia, tapi Islam konservatif juga membakar masjid dari umat Islam lainnya di Sudan. Secara sejarah, perang pertama antara Umat Islam Sunni, Syi’ah, dan lainnya sangatlah merupakan perang berdarah.
  
Kumpulan Hadist yang berwenang


1. Bukhari (810-870 A.D. 256 A.H.) mengumpulkan sekitar 7,275 hadiths (3,000 sampai 4,000 kalimat lepas) (lebih dari sekitar 300,000 ia telah mengetahuinya) yang diketahui secara universal sebagai “sampingan dari Qur’an dalam kewenangannya”. Bukhari diberikan nama panggilan setelah adanya kota Bukhara di Asia Tengah. Semua kumpulan ini memberikan pernyataan yang luar biasa dari sumber tentang Hadist. Pada suatu kesempatan ia pun memberikan sumber yang bermacam-macam yang mengatakan hal yang sama. Bukhari memberikan banyak keajaiban bagi Muhamad, walau Qur’an mengatakan Muhamad tidak pernah melakukan suatu keajaiban.

2. Sahih Muslim, oleh Imam Muslim (817-875 A.D. 261 A.H.) adalah kumpulan yang terstandar kedua, dengan 7,190 hadist (4,000 kalimat yang lepas). Ia mempunyai sedikit perbedaan pendekatan daripada Bukhari. Ia mungkin mengulang budaya yang sama, sebanyak 6, 10 atau puluhan kali, pada satu dan yang lainnya, banyak waktu dengan perkataan yang sedikit perbedaannya, berdasarkan dari sumber yang menyatakan perkataan itu. Sahih Muslim memberikan kutipan dari Sura yang hilang dalam Qur’an. Hal ini juga memberikan banyak keajaiban oleh Muhamad, walau Qur’an mengatakan Muhamad tak pernah melakukan keajaiban itu.

3. Abu Da’ud/Daw’ud/Dawud/Dawood al Sidjistani (817-888/9 A.D. 275 A.H.) mempunyai kumpulan terstandar ketiga dari hadist. Setelah ia menyelesaikan kumpulannya itu pada tahun 864/5 A.D. 241 A.H.) Ia mengumpulkan kumpulannya itu pada Ahmad bin Hanbal, yang menyetujui itu. Ia mengumpulkan 4,800 hadist lebih dari 500,000. Ia mempunyai prinsip bahwa “penghubung haruslah dapat dipercaya bahwa tidak menyediakan bukti yang mendiskreditkan mereka”.

4. Abu’ ‘Isa Mohammed ibn ‘Isa bin Sawra ut-Tirmidhi (825-892 A.D. 209-279 A.H.), seorang murid dari Abu Da’ud, mempunyai kumpulan hadist tertinggi keempat, yang disebut Jami. Yang berisi sekitar 3,956 hadiths. Murid Bukhari ini disebut Tirmidhi karena ia lahir didekat desa Tirmidh di daerah Sungai Oxus. Untuk menjelskan kebingungan, terdapat seorang mistikus Sufi yang bernama Tirmidhi juga, tetapi mereka tidak berhubungan.  
5. Sunan Nasa’i (atau Al Nasa) (830-915 A.D. 215-303 A.H.) yang lain selanjutnya, juga mempunyai sebuah kumpulan 5,764 hadist yang disebut Suand yang mempunyai kewenangan yang lebih rendah.

6. Ibn Maja / Ibn-i-Majah (824-886/887 A.D. 273 A.H.) juga mempunyai kumpulan 4,341 Hadist, tetapi tidak mempunyai kewenangan yang sama dengan keempat pertama kumpulan hadist tersebut.

Keenam kumpulan ini semua disebut Shiah Sitta. Sebelum adanya keenam kumpulan ini ada yang lain. Beberapa orang Sunnijuga memperhatikan kumpulan ketujuh dari hadist itu. Muwatta’ Malik. Hadist Sunni lainnya yaitu: Sunan al-Darimi, Musnad dari al-Humaydi, Sunan al-Daraqutni dan Musnad  Ahmad ibn Hanbal

Yahya bin Sharaf ad-Din an-Nawawi (meninggal 1278 A.D.) mempunyai 42 tradisi yang disebut “empat puluh”. Ini diingat oleh anak-anak diseluruh dunia. Menurut dugaan Muhamad mengatakan bahwa siapapun yang mengetahui tradisi ini Allah akan membangkitkan mereka pada Hari Kiamat dalam kumpulan hakim dan para ahli agama.

Riyadh-us-Saleheen adalah kumpulan yang ada dikemudian hari dengan 2,000 hadiths yang diterima oleh Imam abu Zakariya yahya bin Sharaf an-Nawawi (1233-1277/9 A.D.) Ia menulis sebuah komentar dalam Bukhari dan mempelajari Sahih Muslim.
Encyclopaedia Britannica menyebutkan bahwa Nawawi mengatakan beberapa tradisi dirubah dengan cerita fiksi dari tradisi yang terakhir yang tidak pernah ditulis oleh siapapun.

Fiqh us-Sunnah (1985-1992) adalah kumpulan yang lebih modern dan sistematik, yang saya juga punyai kelima volume bukunya.

Inilah jumlah halaman hadist setiap topiknya.
Penekanan
Bukhari
Sahih Muslim
Fiqh us-Sunnah
Bisnis, uang
301: 546
73 : 409

Pakaian, jilbab
98 : 179
42 : 248

Puasa
61 : 111
55 : 286
38
Makanan, minuman
170: 281
15 : 86

Penguburan
84 : 149
0 : 0
95
Penyembuhan pasien
82 : 502
22 : 135
12
Pernikahan, perceraian
200:262
90 : 377

Menstruasi
21 : 37
33 : 158
6
Nilai personal
274:431
127: 157

Naik haji
185: 324
144: 584
136
Berdoa, ritual
433: 815
263:1505
288
Hukuman, pengadilan
70 : 84
48 : 173

Pajak dan zakat
69 : 105
57 : 227
105
Mengajar, Qur’an
982:1234
239:912

Perang, Hasil Jihad
650:926
69 : 181

Upacara pencucian
87 : 170
26 : 145
68
Keseluruhan
4705:7275
1557:7190
764
Persentase
80%: 85%
83% : 83%
98%

   Syi’ah mungkin mencatat bahwa ketika hadist secara langsung disangkal oleh Islam Syi’ah (Ali bukanlah penerus, bukan orang yang istimewa, dan lainnya) hadist hanya dikumpulkan hampir dua abad lamanyasetelah kematian Muhamad. 


Pentingnya Hadist


   “Bagian dari hadist ini dengan jelas mengindikasikan sebuah fakta bahwa hadist adalah kunci yang dibutuhkan untuk membenarkan pemahaman tentang Qur’an, karena sebagai pembawa wahyu, Nabi merupakan orang yang tepat dan lagipula, secara mutlak berwenang untuk menafsirkan dan menjelaskan pengertian dari Qur’an itu.”
(Sahih Muslim vol. 1 hal.72 catatan kaki)

   Pada kenyataannya, satu hadist mengindikasikan bahwa Muhamad sendiri mengetahui hadist! Bukhari vol.1 buku 3 bag.34 no.98 hal.79 mengatakan, “Muhamad telah berpikir bahwa tak ada seorangpun yang menanyaiku sebelum kamu [Abu Huraira] yang aku tahu kamu telah lama mempelajari hadist ini.” Mungkin Muhamad melakukan keajaiban dengan peramalan ini.

Ingatan Abu Huraira


“Dikisahkan oleh Abu Huraira: saya berkata, ya Rasullulah! Saya telah mendengar banyak cerita dari kau tapi saya lupa semua. Ia mengatakan: ‘bentangkan kain penutupmu.’ Saya membentangkan kain saya dan ia menggerakan kedua tangannya seakan akan mengaduk sesuatu dan menuangkan kedalam kain dan berkata “bungkus lagi”. Saya membungkusnya keseluruh tubuh saya, dan sejak saat itu saya tidak pernah lupa kagi akan satu hadist pun” Bukhari vol.4 buku 56 bag.27 no.841 hal.538. Lihat juga Bukhari vol.9 buku 92 bag.22 no.452 hal.332, Sahih Muslim vol.4 no.6083-6085 hal.1329-1330.

Referensi yang berseberangan


   Pada satu pihak, hadist dikumpulkan sekitar 200 tahun setelah kematian Muhamad. Dilain pihak, kumpulan yang berbeda muncul sebagai referensi yang bertentangan satu sama lain dan lebih atau sedikit independent (kecuali yang Tirmidh pelajari dari Bukhari) Tambahannya, terdapat empat penulis biografi Muhamad yang terdahulu yang menulis lebih sederhana daripada para pengumpul hadist itu. 
Al-Wahidi/Wakidi (meninggal tahun 823 A.D.)
Ibn Sa’ad (meninggal tahun 845 A.D.)
Ibn Isaq/Ishaq (meninggal tahun 767 A.D.)
Ibn Jair al-Tabari (hidup kemudian, dan meninggal tahun 923 A.D.)
Ini juga bertindak sebagai sebuah kroscek. Beberapa orang mungkin berpikir ingatan Abu Huraira hanya dalam membuat hadist, seperti yang lainnya telah akui. Maka masalah bukan pada apakah pengumpul hadist itu atau apa yang dibuat oleh sang penulis biografi, tetapi lebih apakah mereka hal itu sebagai hadist yang asli. Umat Islam Sunni sendiri mengakui terdapat kesalahan kecil dalam hadist, karena perkataannya berbeda. Namun, mereka tidak percaya kesalahan kecil itu menimbulkan ketidaksahan dari pengajaran Hadist ini.
  Beberapa Hadist dirubah, menurut sebuah judul dalam Sahih Muslim vol.1 no.682 hal.195-197

Beberapa sekolah Sunni masa awal


Al-Awza’i (meninggal pada tahun 774 A.D.) menekankan tradisi yang hidup meliputi hadist yang sah. Sekolahnya digantikan oleh suku Maliki.

Thawriyya, dimulai oleh Sufyan al-Thawri (716-778 A.D.) menekankan hadist yang menggunakan tradisi yang masih ada. Mereka mempunyai dua kumpulan hadist yang sekarang sudah hilang. Thawriyya digantikan oleh lawannya yaitu suku Hanafi.

Mu’tazilit ditemukan oleh Wasil ibn Ata. Mereka mengatakan bahwa alasan itu sangatlah penting. Sifat Tuhan bukanlah suatu yang sungguh ada bersama Tuhan. Mereka menjelaskan sebuah antropomorfisme tentang Tuhan. Kaum Mu’tazilit mengatakan Qur’an diciptakan dan mereka menekankan pada tanggung jawab manusia. Mereka ragu atas hadist (ingat ini ada sebelum Bukhari dan yang lainnya diselidiki melalui hadist) Kaum Mu’tazilit lebih tepat memulai pada tahun 849 A.D.

Ash’ari (873-935 A.D.), adalah pendiri Mu’tazilite, merupakan kunci perkembangan logis dari sekolah kaum Sunni.

Zahiriyya/Dawudiyya “masa kesusastraan” dimulai oleh Dawud Khalaf (meninggal tahun 882 A.D.). Mereka menolak penalaran manusia, walau mereka menerima analoginya.

Kadarita mengatakan manusia mempunyai kekuatan dalam tindakannya versus takdir yang diberikan manusia. Seorang pemimpin pada masa awal, Ma’bad al-Juhani, dihukum mati karena pengajarannya pada tahun 699 A.D.

Murjiit (yang ditunda) menekankan tidak pernah menghakimi siapapun, - bahkan korupsi yang dilakukan pemimpin Umaya sekalipun.

Jahizit merupakan sebuah sekte Mu’tazilite yang didirikan oleh Abu ‘Uthman ‘Amr ibn Bahr ul-Jahiz (meninggal tahun 1869). Jahiz berarti “manusia dengan murid-murid yang terkemuka”.  

Komentator lainnya dalam Qur’an yaitu Ibn al-Jauzi (meninggal tahun 598 A.H.) dan Ibn Jahar (meninggal tahun 852A.H.).

Sekolah Utama bagi Kaum Sunni


Sekolah Hanifi/Hanafi didirikan oleh Abu Hanifa (meninggal tahun 150/767 A.D.). Sekolah itu diatur secara sistematis oleh dua muridnya yaitu Abu Yusuf (meninggal tahun 797 A.D.) dan Mohammad al-Shaybani (meninggal tahun 805 A.D.) “Abassids” dan and Ottoman umumnya mengikuti kaum Hanafi, dank arena itu sangat terkenal saat ini.  

Sekolah Malikite datang dari Malik ibn Anas (709/715 - 179/795 A.D.). Mereka sekarang berada di afrika saat ini.

Sekolah Hanbalite adalah sekolah terkecil. Sekolah itu didirikan oleh seorang yang sangat konservatif yaitu Ahmad ibn Hanbal (meninggal tahun 855 A.D.). Penafsiran mereka secara umum banyak menggunakan tata bahasa. Menurut buku berjudul Islam edisi kedua hal.131, mereka berpendapat sangat bertentangan dengan Mu’tazilit, yang menekankan hukum Tuhan atas kerugian dari kekuasaannya.

Sekolah Shafi’ite, terutama di Indonesia sekarang ini, didirikan oleh Al-Shafi’i (meninggal tahun 819/820 A.D.), yang berasal dari sekolah Malikite. Ia menekankan empat dasar kewenangan yang harus dipatuhi: Qur’an, tradisi Hadist (sunna), musyawarah (ijma) yang diterima oleh semua kaum Islam, dan terakhir pemikiran yang murni (ijtihad dan qiyas). Tak ada yang menyebutkan tentang mempertanyakan perlindungan Tuhan. Kemudian sekolah yang lain menerima empat dasar ini juga. Muhamad pun berkata, “umatku tidka akan pernah setuju dengan kesalahan”, maka apapun yang disetujui umat Islam berarti itulah yang benar.

Kaum Farisi atau bukan?


   Islam Sunni dapat mengingat salah satu orang Farisi pada masa Yesus hidup, yang sangat memperhatikan setiap rincian dari aturan hukum yang ada, tapi melupakan sebuah hubungan kasih dengan Tuhan. Pandangan ini disebutkan dan ditolak dalam terjemahan bahasa Inggris dari Sahih Muslim volume 3 hal.1116 catatan kaki to no.5031. Tapi apa yang kamu pikirkan?

“Anas bercerita bahwa Utusan Allah (semoga damai bersamanya) bernafas tiga kali  (diluar gelas) yang untuk minum dan berkata: Ini akan lebih memuaskan kehausanmu, lebih sehat, dan bermanfaat. Anas berkata: maka saya juga harus bernafas tiga kali ketika saya minum.” Sahih Muslim volume 3 no.5030 hal.1118.

“Ibn ‘Abbas bercerita pada Utusan Allah (semoga damai besertanya) yang mengatakan: ketika diantara kamu makan sesuatu maka ia tidak boleh membersihkan tangannya sebelum ia menjilati jari-jarinya terlebih dahulu atau menyuruh orang lain yang menjailati jari-jarinya itu.” Sahih Muslim volume 3 no.5037 hal.1119.

“Ibn ‘Abbas ditanyai tentang seorang laki-laki yang menunjuk dengan jarinya ketika sedang berdoa, dan berkata. ‘Ini merupakan sholat yang sungguh-sungguh’. Kata Anas ibn Malik,’ ini sedang memohon’ para mujahidin menambahkan ‘melakukan ini untuk menghalangi setan’. Menurut Syafiah, menunjuk dengan jari hanya sekali, ketika berkata-kata ‘kecuali Allah’ dalam menjadi saksi yang membuat pernyataan. Kaum Hanafiyah mengangkat jarinya dalam menyangkal sebagian pernyataan (tak ada yang baik) dan menurunkan jarinya itu selama sesi komfirmasi (kecuali Allah). Kaum Malikiyyah menggerakan jarinya ke kiri dan kanan sampai mereka selesai berdoa. Kaum Hanbaliyyah menunjuk dengan jari setiap kali mereka menyebutkan Allah, sebagai pancaran bahwa Allah adalah satu, dan mereka tidak menggerak-gerakannya.” Fiqh us-Sunnah vol. 1 hal.158.

Kalif Pertama


Abu Huraira bercerita bahwa Muhamad mengatakan setelah kematiannya mereka harus patuh pada kalif. Ibn-i-Majah vol.4:2871 hal.203

1. Abu Bakr menjadi kalif dari tahun 6/8/632 - 634 A.D. smapai kematiannya di tahun 634 A.D. Ia adalah ayah dari istri Muhamad Aisha. Ia menghukum banyak pemberontak Islam.

2. ‘Umar/Omar bin al-Khattab lahir pada tahun.581 A.D. menjadi kalif dari tahun 634 A.D. sampai pada pembunuhannya tahun 644 A.D. oleh seorang budak Persia dengan menggunakan racun yang mematikan. Umar suatu saat menawarkan pada Muhamad untuk memotong kepala anak perempuannya, Hafsa, salah satu istri Muhamad. Umar mengalahkan Siria dari tahun 635-637 A.D., mengalahkan Persia dari tahun 637 A.D., dan Mesir tahun 639-642 A.D. Ia mengatakan,”Cegahlah wnaita agar tidak belajar menulis! Katakanlah untuk tidak merubah cara yang dahulu.”

3. ‘Uthman bin ‘Affan menjadi kalif tahun 644 A.D. sampai pada tahun pembunuhannya tahun 656 A.D. ketika seorang Islam yang berontak memaksa menyerang Medina. Sebuah pertempuran telah dimulai melawannya pada tahun 655 A.D. di Kufa. Ia menmpermasalahkan kembali “standar” dari Qur’an.

4. ‘Ali bin Abu/Abi Talib (lahir tahun 600 – menjadi kalif tahun 656 – dibunuh tahun 661 A.D.) Ketika Ali menjadi kalif ia menangkap Aisha seperti ia menghancurkan 3.000 pemberontak di perang Jamal, membunuh jendral Talha dan Zobair. Saat itu Kufa adalah ibukotanya. Setelah Fatima meninggal, Ali mempunyai 8 istri dan 33 anak-anak.

5. Mu’awiya I, ‘Sepupu Usman, menjadi kalif sebelum tahun 661 A.D. setelah Ali memimpin kekalifan. Mu’awiya mengangkat pakaian yangberlumuran darah milik sepupunya itu sebagai bendera, dan mengatakan Ali tidak cukup untuk membawa pembunuhan itu ke pada peradilan. Pada perang Siffin dekat Efrat tahun 7/657 ‘orang-orangnya Ali menang ketika prajurit Mu’awiya mengambil halaman-halaman Qur’an dengan ujung tombaknya dan mengatakan bahwa Islam tidak boleh saling menyerang. Abu Musa adalah penengah dari pihak Ali dan ‘Amr ibn-el-Ass penengah untuk Mu’awiya. ‘Amr membujuk Abu Musa bahwa yang mendamaikan itu akan menjadi kalif. Maka keduanya diberhentikan, dan lalu Amir menjadikan Mu’awiya seorang kalif! Kaum Kharijite mencoba untuk membunuh namun akhirnya gagal dalam membunuh Mu’awiya dan ‘Amr, berkata tapi mereka berhasil mendapatkan Ali pada 24 Januari tahun 661 A.D. dengan senjata beracun.

6. Yezid/Yazid I (korupsi) (60/680 – 64/683 A.D.) (atau 683-686 A.D.) beberapa orang tidak menerimanya sebagai kalif yang sah.

7. Abd al-Malik tahun 683-705 A.D. menjatuhkan pemberontakan Abdulla bin Zubair (salah satu anak laki-laki dari pemberontak Aisha) pada tahun 683 A.D. dengan mengepung Mekah. Sebuah kobaran api terdapat di Ka’abah dan batu bintang suci itu pecah. Ia menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pada tahun 696 A.D.

Abbasids pada tahun 747-750 A.D. dibawah Abu al-Abbas al-Saffah mengusir kaum Umayyad. (al-Saffah berarti luapan darah.) Setiap kepala kaum Umayyad dipenggal kecuali Abd al-Rahman, yang lolos dari bangsa Spanyol. .

‘Ali tidak mempunyai Pengetahuan yang Istimewa


Bukhari Hadith vol.9 buku 83 bag.31 no.50 hal.37-38 “diceritakan oleh Abu Juhaifa : saya bertanya pada Ali, ‘Apakah kamu mempunyai sumber tulisan lain yang hebat selain dari Qur’an? Atau, seperti yang Uyaina katakan, “selain dari yang orang lain miliki?’ Ali mengatakan,’Dalam namaNya yang menjadikan biji-biji berkecambah dan menciptakan roh, kita tidak mempunyai apa-apa kecuali apa yang ada di dalam Qur’an dan diberikan rahmat dalam memahami kitabAllah itu yang mana Ia memberkati manusia, dengan dan dari apa yang ia tulis dalam setiap lembaran kertasnya itu.’ Saya bertanya, ‘apa yang ada dalam lembarab itu?’ ia menjawab, ‘peraturan yang sah tentang  Diya (uang  dan darah) dan (tebusan) yang dinyatakan untuk membebaskan tawanan, dan keputusan bahwa tak ada umat Islam yang dibunuh dalam Qisas (sama halanya dengan hukuman) yang membunuh orang kafir (orang yang tidak percaya).” [“sumber tulisan hebat yang lain” adalah tata bahasa yang asli]

‘Ali bukanlah pengganti Mumahad menurut Bukhari vol.5 buku 59 bag.81 no.736 hal.525

Tidak semua Kaum Sunni yang melaksanakan Hadist


Jika seorang Islam Sunni di daerah barat ingin hidup sesuai dengan hadist, diantara yang lainnya, mereka harus melakukan hal-hal berikut.

Jilbab diwajibkan untuk perempuan Muslim Sahih Muslim vol.2 no.2789 hal.606-607. Jilbab tidak diperbolehkan bagi budak. Sahih Muslim vol.2 no.3325,3328 hal.721-722

Umat Islan dilarang untuk menjula, anggur, berhala, dan daging babi. Sahih Muslim vol.3 no.3840 hal.828-830. Ini agaknya akan menghalangi pekerjaan di pusat perbelanjaan yang menjual alkohol, sosis, dan lain-lain. 

Sahih Muslim mengatakan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan untuk bermain catur. (vol.4 buku 25 no.5612 hal.1222). Laki-laki Muslim tidak boleh memakai bahan sutra. (vol.4 no.6038 hal.1314), seperti dasi sutra atau memakai pakaian yang berwarna kuning (vol.3 no.5173-5178 hal.1146). Abu Dawud vol.3 no.3714 dan catatan kaki 3168 hal.1053; vol.1 catatan kaki 535 hal.277 juga mengatakan laki-laki tidak boleh mamakai sutra dan brukat. Umat Islam tidak boleh memakai pakaian berwarna kuning menurut Tirmidhi’s Shamaa-il bag.46 no.4. Ketika Khalid bin Sa’id datang ke Mekah memakai jubah sutra, mereka berlinangan air mata. al-Tabari vol.11 hal.75. Semua orang Islam tidak dapat minum dari gelas emas atau perak. Permaianan tentang peluang dilarang menurut Abu Dawud vol.3 no.3687 hal.1047. Bukhari vol.7 buku 62 bag.95 no.133 hal.101 mengatakan perempuan tidak boleh menggunakan wig pada rambut aslinya. Tak boleh memasang gambar orang atau binatang menurut Bukhari vol.4 buku 54 bag.6 no.447-450 hal.297-299. Namun, Muhamad menggunakan brukat sutra selama perang. Ibn-i-Majah vol.4 no.2819 hal.174

Abu Dawud vol.3 no.4920 hal.1375 mengatakan umat Islam tidak boleh bermain “ backgammon”.

Apa yang menjadi tradisi yang terdahulu?


   Para pengamat Sunni dalam Hadist menekankan bahwa Qur’an sendiri tidaklah cukup. Qur’an membutuhkan penafsiran hadist untuk mengetahui artinya. Namun, orang Sunni sebenarnya menolak tradisi itu. Seperti contohnya, umat Syi’ah mempunyai kumpulan Hadist juga, yaitu yang dibuat Mullah Muhammad Bakir Madjlisi (1627-1698 A.D.). Orang Sunni pun juga menggunakan hadist mereka sendiri, dan kepunyaan kaum Sunni itu lebih dulu ada, yaitu hanya sekitar dua abad setelah Muhamad. 

   Tetapi mengapa mereka menolak tradisi yang pertama itu, yang mana setuju dengan Alkitab. Dari sekitar tahun 97/98 A.D., terdapat pemeliharaan yang cukup berlebih pada tradisi Kekristenan yang dapat dipercaya yang ada dalam Alkitab. Para penatua gereja zaman awal menulis hal ini dengan cukup luas, dan mereka senang menggunakan kutipan dari injil. Mengapa tidak mempelajari juga tradisi Yesus?

   Untuk hal itu, mengapa kaum Sunni menolak kelayakan dari Alkitab, ketika kita telah mempersiapkan Alkitab dari tahun 100 A.D., 125-175 A.D., dan penggalan-penggalannya dari sekitar tahun 117-138 A.D. Banyak umat Islam yang justru tidak memperhatikan tentang bukti salinana dari Alkitab. Dua alasannya yang dapat anda dengar dari para pembela Islam yaitu adanya variasi salinan, dan Perbedaan dalam penceritaan. Mereka dijelaskan masing-masing untuk menjadi sebuah jawaban dari orang Kristen bagi dua pertanyaan ini, dan inilah jawaban itu.

Variasi Naskah


   Kami yakin sekitar 97.3% akan keaslian dari setiap kata yang ada Perjanjian Baru. Kebanyakn perbedaannya yaitu didalam pengejaan, penataan kalimat, dan tak satupun yang mempengaruhi doktrin Kristen. Dua variasi naskah terbesar yaitu akhir dari Markus, dan cerita tentang Yesus yang mengampuni perempuan yang berzina. Sementara keduanya mungkin adalah bagian dari Alkitab dari salinan yang asli, tapi poin pentingnya bukan itu. Kalimat-kalimat ini tidak mempengaruhi doktrin Kristen, dan kami harus membandingkan ini dengan situasi umat Isla saat itu. Qur’an mempunyai sura yang telah hilang, menurut Sahih Muslim vol.2 no.2286 hal.500,501.

   Bukhari Hadiths mendokumentasikan ayat-ayat Qur’an yang hilang dalam Bukhari vol.4 buku 52 bag.9 no.57 hal.45, vol.4 buku 52 bag.12 no.62 hal.48; vol.4 buku 52 bag.19 no.69 hal.53; vol.6 buku 61 bag.3 no.510,511 hal.479-480.

   Terdapat beberapa versi tentang Qur’an, beberapa dengan dua sura yang lebih dari versi lainnya. Kalif Usman mencoba memecahkan masalah itu dengan menyuruh setiap orang untuk menyerahkan Qur’an mereka, dan ia membuat suatu versi yang “standar”.

   Maka baik Qur’an ataupun Alkitab mempunyai masalah dalam naskah. Alkitab mempunyai beberapa variasi naskah, dimana tidak terdapat perubahan dengan doktrinnya dan kita mengetahui keragaman itu, sementara Qur’an mempunyai variasi yang merubah doktrinnya, sebuah lembaran yang hilang, ditambah dengan adanya keragaman itu.

Perbedaan dalam penceritaan


   Penulis Alkitab memberikan empat penceritaan berbeda mengenai kehidupan Yesus. Setiap penulisnya memberikan tambahan yang detil mengenai Yesus yang tidak ditulis oleh penulis lain, dan mereka mempunyai penekanan yang berbeda pula. Seperti cotohnya, kita percaya Matius pertama-tama menulis pada masyarakat Yahudi, sementara Lukas berfokus pada kaum Non-Yahudi. Tetapi mereka tidak bertentangan,

   Perbedaan kumpulan Hadist juga mempunyai perbedaan detil yang tidak terlalu besar. Seperti halnya terdapat empat penulis biografi Muhamad. Mereka juga punya perbedaan dalam detilnya, dan tidak ada yang menjadi suatu keterkejutan atau skandal tentang itu. Satu hal yang mereka setujui tentang itu, yaitu bahwa Muhamad semula mempunyai ayat dalam Sura 53 yang mengatakan campur tangan dari anak perempuan Allah (berhala) yang diharapkan. Yang bertentangan, dalam alkitab walaupun terdapat perbedaan penceritaan namun tak ada yang menceritakan adanya suatu pengharapan dari Tuhan yang lain, tidak seperti yang penulis biografi Muhamad tulis dalam Qur’an.

   Maka jika masalah tulisan naskah tidak signifikan dalam Alkitab daripada dalam Qur’an, dan anda ingin mengikuti tradisi, maka ikutlah pada tradisi yang awal dan dapat dipercaya, dan percayalah Tuhan bahwa IA dapat melindungi apa yang menjadi arti dari SabdaNya itu. 

Sumber : muslimhope  wikipedia

{ 0 komentar ... read them below or add one }

Poskan Komentar